Lampu fluoresen di laboratorium fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan selalu terasa terlalu terang, memandikan koridor panjang dengan cahaya putih pucat yang seolah menyerap segala nuansa warna di sana. Devan sudah terbiasa. Lima tahun terakhir, warna-warna memang telah menjadi kemewahan yang tidak bisa ia nikmati.
Pagi ini, ia menghabiskan dua jam di laboratorium patologi, mengamati sel-sel yang rusak. Ia mencatat setiap detail dengan kejelian seorang dokter yang sempurna, tetapi tanpa gairah seorang seniman. Tangannya bergerak otomatis, cepat dan terampil, sebuah tangan yang dirancang untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk melukiskan kisahnya.
Saat ia berjalan keluar, tas ransel kulit berisi buku-buku tebal terasa membebani pundaknya, rasa enggan masih menerpanya walau sudah menempuh langkah sejauh ini. Di depan pintu lab, ia berhenti sejenak, memejamkan mata. Seandainya ia bisa melihat dunia ini dalam spektrum aslinya, mungkin pandangannya tentang dunia akan jauh lebih baik dari saat ini.
Tiap harinya terasa selalu ditutupi awan mendung yang memudarkan setiap warna yang seharusnya ada.
Devan membuka mata, meyakinkan dirinya sendiri bahwa hari ini tidak akan berbeda. Ia memiliki jadwal yang padat, kuliah bedah minor setelah makan siang, diskusi kasus, dan sore hari ia harus ke klinik untuk membantu ayahnya bekerja. Monokrom. Itu adalah julukan yang diberikan padanya oleh beberapa mahasiswi di angkatannya. Bukan untuk mengejek, melainkan untuk menggambarkan auranya yang selalu terkendali, tenang, dan tanpa warna mencolok yang merusak.
Pemuda itu menghembuskan nafasnya, ia mulai berjalan menuju kantin tempat dirinya dan Juna, sahabatnya, makan siang bersama. Perutnya mendesak untuk diisi, dan otaknya butuh suntikan kafein sebelum membedah materi tentang trauma tumpul abdomen setelah ini.
Langkah kaki Devan berhenti mendadak.
Di salah satu bangku kayu yang terletak di taman kecil yang dilewatinya, ada seseorang.
Bukan pemandangan taman yang membuatnya terhenti. Yang menarik perhatian Devan adalah apa yang dilakukan orang itu di sana.
Seorang gadis. Rambutnya diikat asal, mengenakan kemeja kebesaran dengan warna kuning mencolok, dan di pangkuannya, terbentang sebuah kanvas dengan sketsa kasar. Matanya fokus ke depan, menatap kumpulan bunga hydrangea yang sedang mekar di pinggir taman.
Tapi gadis itu tidak menggambar bunganya.
Ia sedang melukis dengan cat minyak. Dan palet yang ia gunakan, meriah.
Oker mentah, vermilion yang berani, dan curelean blue yang mencolok. Warna-warna itu beradu, dicampur kasar, menciptakan tekstur tebal di atas kanvas kecil yang tertidur di atas pangkuannya.
Devan berdiri diam.
Pemandangan di dalam kanvas itu seperti melihat ledakan cahaya yang tiba-tiba setelah bertahun-tahun hidup di ruangan gelap. Rasa sakit menusuk di ulu atinya, rasa nyeri yang sudah lama ia kenal. Kerinduan. Kerindungan pada bau minyak terpentin, pada sentuhan kuas di jemarinya, pada kebebasan total untuk menciptakan warna tanpa memikirkan konsekuensi hidup atau mati.
Gadis itu mendongak sebentar, seolah merasakan kehadiran anomali yang memperhatikannya. Devan segera memalingkan wajah, pura-pura memeriksa ponselnya.
"Sial," bisiknya pelan. "Jantung gue." kakinya mulai melangkah meninggalkan pelataran taman dan gadis yang menatapnya dengan sorot bingung.
Devan menggeleng, berusaha mengenyahkan kejadian tadi yang tiba-tiba memenuhi pikirannya. Bukan karena gadis itu. Tapi karena paletnya. Palet itu seperti mengejeknya, sebuah sentilan yang mengingatkannya pada sesuatu yang telah lama ia bunuh dari dirinya.
Ia mempercepat langkah, menuju kantin yang menjadi tujuannya.
***
Kantin fakultas kedokteran dijuluki sebagai ruang meeting karena mahasiswa disini lebih sering membicarakan investasi dan proposan bisnis kesehatan daripada penyakit langka. Disana Devan duduk di sudut sepi, menarik textbook bedah.
"Woi, bos abu-abu!"
Suara itu selalu keras dan tidak mengenal waktu. Devan tidak perlu mendongak untuk tahu siapa pemilik suara cempreng itu.
"Juna, berisik." peringat Devan datar.
Juna Wirayudha, sahabat Devan sejak SMA, berjalan mendekat sambil membawa nampan penuh makanan. Dengan gayanya yang mencolok, pemuda itu adalah kebalikan Devan, jurusan bisnis, berisik, penuh warna, dan selalu tahu cara membuat tawa menggelegar.
"Sibuk amat lu." matanya menatap buku yang dipegang oleh Devan sebelum berdecak. "Si anjir, buku itu lagi. Itu buku bedah minor kenapa lu baca lagi? Gue pikir lu udah hapal di luar kepala," Juna menggeleng, menghempaskan bokongnya ke atas bangku di hadapan Devan tanpa diizinkan.
"Gue ada prakter abis ini, sore juga mau bantuin bokap, jadi review materi sebentar." Devan menghedikkan pundaknya acuh, matanya tak lepas dari buku di tangannya.
Juna mengibaskan tangannya tak percaya. "Ya Tuhan, Devan ku yang ganteng. Santai dikit napa hidup lu? Lima tahun lo kejar-kejaran kayak robot." Tangan Juna tanpa sopan santun langsung menarik buku di tangan Devan, menggantikan dengan sepiring gado-gado yang dibawanya.
"Nyoh, gue bawain gado-gado. Kurang baik apa coba gue? Gue tau lo butuh vitamin C dari kacang biar fokus." kelakar Juna sambil membusungkan dadanya.
Devan berdecak, namun tak ayal mengambil sendok di hadapannya. "Makasih," jawabnya singkat. Rasa lapar akhirnya mengalahkan isi pikirannya tentang seni.
Juna mengangguk, mulutnya terbuka tanda bahwa obrolan mereka akan dimulai. "Lo tau ga, semalem gue habis rapat gila-gilaan buat event pentas seni kita, man. Gue pengen acaranya pecah," Juna berkobar-kobar sambil menyambar udang yang ada di hadapannya.
"Gue udah transfer donasi. Urusan konsep sama yang lainnya, gue gak mau ikut campur," kata Devan. Ia selalu menyumbang dana cukup besar untuk kegiatan seni di kampus, sebuah cara untuk berpartisipasi dalam dunia yang ia tinggalkan lewat bayangannya.
"Nah, ini dia masalahnya, ma bro." Juna menyikut lengan Devan. "Urusan danus udah beres, venue oke. Tapi ada satu problem remeh banget."
Devan mengangkat alis. "Apa?"
"Divisi Dekorasi dan Publikasi kita kekurangan orang yang visioner di bidang seni. Yang ada cuma anak-anak photoshop doang. Sementara tema kita tahun ini visual echo, butuh sentuhan pelukis sama instalasi yang nendang," jelas Juna sambil mengunyah.
Devan menelan gado-gadonya. Juna tahu persis masa lalu Devan sebagai pelukis berbakat. Setiap kali Juna membahas masalah seni, ada dorongan untuk Devan mengatakan, 'Gue bisa bantu.' Tapi ia selalu menahannya.
"Derita lo, suruh siapa lo ambisius gitu." tukas Devan tak peduli. "Lagian lo tinggal cari anak seni rupa. Gampang kan,"
Juna menyeringai, matanya berkilat licik. "Udah gue coba. Tapi yang mau gabung, skill-nya di bawah rata-rata. Dan barusan, barusan banget, gue ketemu orang yang gue rasa bisa nyelametin panggung pensi ini."
Devan pusa-pura fokus pada kerupuknya. "Siapa?"
"Kalo gak salah namanya Joanna. Anak Seni Rupa semester dua. Tadi gue kenalan sama dia di taman. Terus dia baru selesai ngelukisdi kanvas kecil. Gila, bro. Lukisannya, liar. Penuh feel. Gue gak ngerti seni, tapi gue yakin dia the one," kata Juna berapi-rapi yang membuatnya tampak seperti seles promosi produk.
Joanna.
Deskripsi orang itu terasa familier. Devan jadi teringat dengan palet penuh warna liar uang ia lihat lima belas menit lalu di taman. Mengangat itu, rasa sakit di ulu hatinya kembali menguar.
"Terus? Rekrut lah," Devan mencoba terdengar acuh tak acuh.
"Pastinya, gue langsung rekrut dia di tempat. Gue ngajak ngobrol dia sebentar tadi. Anjayy, nyambung banget, gila! Akhirnya gue ajak makan siang sekalian." Juna mengeluarkan ponselnya. "Lo temenin gue ya, Van. Lo kan anak kedokteran, dia pasti hormat sama lu."
Devan menggeleng tegas, dirinya hendak bangkit. Tak ingin terlibat lebih jauh dengan Juna atau Joanna, atau siapapun itu. "Gak, Gue ada janji Jun. Lagian, lo bisa telepon Arya atau Tio. Mereka paling jago soal flirting."
"Alah, sok sibuk lu. Janji apa? Janjian sama buku lagi? Lagian kelas lo baru mulai ntar jam setengah dua," Juna merengek, tangannya mencekal lengan Devan agar pemuda itu tak pergi. "Ayolah, Van. Ini demi pensi kita, demi legacy kita. Kita butuh dia. Dia bilang dia ada di sekitaran sini. Tuh, dia udah bales chat gue."
Juna menunjukkan room chatnya dengan Joana. Devan tak peduli, berusaha pergi dari cengraman Juna. "Bukan urusan gue Jun, gue udah ngasih dana ke event itu." decak Devan yang tak suka Juna mulai melanggar janji-janjinya.
"Tunggu, Dev." pinta Juna, tangannya kemudian menunjuk kearah pintu kantin. "Itu dia datang."
Pintu kantin terbuka.
Masuklah seorang gadis yang tadi dilihat Devan di taman. Rambutnya diikat asal, kemeja kuning yang kebesaran. Di bahunya, tersampir tas kanvas usang. Di wajahnya ada sedikit noda cat minyak berwarna kuning di pipi kanannya.
Ia terlihat sedikit bingung, matanya menyapu seisi kantin.
"Joanna!" panggil Juna sambil melambai dengan semangat.
Gadis itu, Joanna, melihat ke arah Juna. Ekspresinya berubah, sedikit canggung, ia tersenyum tipis dan berjalan menghampiri meja mereka.
Saat Joanna berdiri di hadapan mereka, Devan memutuskan untuk duduk. Kepala pemuda itu kemudian mendongak, di bawah cahaya fluoresen yang kejam, ia melihat ledakan warna cokelat yang jernih penuh dengan rasa ingin tahu pada mata Joanna.
Dan penampakkannya yang begitu meriah di tengah lautan abu-abu kantin fakultas kedokteran, tampak seperti titik fokus yang menarik seluruh perhatiannya.
Mereka semua kemudian duduk melingkar, Juna serta merta membuka obrolan mereka bertiga dengan sebuah perkenalan.
"Joanna, kenalin. Ini Devan. Dia partner gue, anak kedokteran," Juna memperkenalkan Devan dengan bangga.
Joanna mengulurkan tangan, bibirnya menyunggingkan senyuman. "Joanna."
Devan merasakan tangan kanannya yang biasa dingin, kering dan steril kini terasa begitu hangat saat bersentuhan dengan tangan itu. Dapat tercium olehnya, ada jejak bau cat yang samat dari tangan itu.
"Devan," jawabnya pelan. Suaranya terasa lebih serak dari biasanya.
Juna tertawa, tangannya menepuk pundak Devan keras. "Devan ini cowok monokrom yang gue ceritain tadi." canda Juna dengan tawa garingnya.
Joannya tertawa pelan. "Ohh, jadi kamu yang monokrom itu?"
"Hooh, dia ninggalin warna demi jadi monokrom di fakultas kedokteran!" lanjut Juna, berusaha melanjutkan candaannya yang terasa begitu menyebalkan di telinga Devan.
Mata Joanna menatap Devan, bukan dengan tatapan penghakiman atau rasa kasihan, tetapi dengan keingintahuan yang begitu besar, seolah sedang mencoba memahami sebuah komposisi warna yang absurd.
"Gue idealis, bukan monokrom." koreksi Devan yang tak suka dengan ucapan berlebihan dari Juna.
Tawa ringat menguar dari Joanna, gadis itu menggeleng. "Ideal juga butuh warna, tau! Lagian, monokrom itu gradasi buat bayangan, Aku gak yakin cowok kayak Devan hidup di bayangan." Balas Joanna santai, dia meletakkan tasnya di kursi kosong sebelah Juna.
Devan terdiam. Kata-kata itu menusuk langsung menuju jantung dilemanya. Ia tidak menyangka gadis yang baru saja ia temui bisa menamparnya dengan kalimat sepedas itu. Keheningan datang menyelimuti meja mereka. Devan menatap Joanna yang sibuk melihat daftar menu di tangannya. Ia melihat noda cat kuning di pipiJoanna, bintik kecil di tengah wajah pucatnya.
Monokrom itu cuman bayangan.
Pandangan Devan terhadap gadis ini bukan lagi sebatas gadis asing yang memili kontras warna gila. Tapi sebuah penantang yang ingin Devan taklukkan. Devan ingin segera mencari tahu isi kepalanya, membedahnya hingga dia mengetahui seperti apa warna yang dilihat oleh kedua matanya hingga memilih palet itu.



0 Komentar