Aku menulis bukan untuk meninggalkan jejak, tapi untuk memahami bayangan yang kutemui di sepanjang jalan.

Ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan dengan suara, hanya bisa dibisikkan lewat kata. Maka aku menulis, agar diam punya arti, dan kesunyian bisa berbicara.

Aku menyukai hal-hal yang luput dari pandangan, mulai dari retak di tembok, cahaya di sela pepohonan, atau tawa yang berhenti di tengah kalimat. Dari sana, aku menemukan dunia yang tak semua orang mau lihat.

Menulis adalah caraku memberi bentuk pada keanehan yang kutemua. Setiap kata di sini adalah serpihan diriku yang mencoba memahami dunia, atau mungkin, dunia yang sedang mencoba memahami aku.

Aku tidak mencari cahaya. Aku hanya ingin tahu apa yang bersembunyi di balik gelap. Karena di sanalah — di antara kabut, sunyi, dan sisa napas —aku merasa lebih bebas. Tulisan-tulisanku mungkin tak selalu terang, tapi setiap kalimatnya adalah denyut kecil yang membuktikan bahwa aku masih di sini, masih menulis, masih hidup.