Di bilik remang, di lantai tiga ruko yang bau apek dan pengap, duduklah Amorphophallus. Bukan sebuah bunga bangkai raksasa, melainkan nama panggilan bagi sosok wanita yang dipuja dalam keindahan yang menyorot mata. Dia dipuja bukan untuk dijadikan dewa, tapi untuk bertahan hidup dari sisa dunia yang melekat pada tiap kelopaknya.

Cahaya lampu neon yang rusak di sudut lorong memaksanya menjadi patung perunggu—cantik, namun dingin tak tersentuh. Hangatnya baru menguar ketika pintu terbuka, diiringi senyuman yang langsung terpasang di wajahnya. Senyumnya bagaikan madu yang manis menggoda, selalu mekar seolah mengalirkan janji, padahal itu hanya getah yang dia tebar untuk memerangkap mangsanya.

Para lalat kota—para pria berpakaian rapi dan pria-pria putus asa—masuk, terbius silih berganti. Mereka mencium baunya, harum, memabukkan jiwa. Hingga mereka tak sadar bahwa aroma yang mereka hirup adalah bau busuk dosa yang tercium dari neraka.

Amorphophallus tidak membuang waktu. Ketika sosok Klien—kali ini pria paruh baya dengan cincin emas di jari telunjuk—duduk, matanya langsung menghitung nilai jam, bukan nilai manusia. Mata itu bergerilya dari atas ke bawah, menilai kisaran harga yang akan dilemparnya. Barangkali lalat satu ini bisa membantunya melakukan penyerbukan dengan sempurna tanpa harus menarik lalat lainnya.

“Dingin sekali, Sayang,” ujar pria itu, mencoba meraih tangannya.

Amorphophallus menarik tangannya dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, sebuah seni membatasi jarak. Dirinya tersenyum lalu mencondongkan tubuh, wajahnya mendadak personal dan khawatir. Tubuhnya semakin mencondong ke depan, hingga bibirnya mendekat dan berhenti di telinga, lalu jari-jarinya membelai dasi yang terpasang sempurna di dada pria tua yang duduk di hadapannya.

“Tangan aku memang dingin, Om. Mungkin karena aku terlalu memikirkan tagihan bulan ini,” bisiknya, suaranya manis, diliputi nada getir yang dibuat-buat. Wanita itu seolah tengah memainkan simfoni kesedihan untuk menarik simpati lawan bicaranya.

Dia tahu persis kalimat mana yang harus diucapkan. Kalimat yang tidak mengemis, namun menjual kerapuhan yang melekat padanya. Kalimat yang membuat pria itu merasa kuat, merasa mampu menjadi pahlawan yang membeli kehangatan, sebuah keintiman, tanpa merasa menjadi predator. Dia selalu tahu apa yang diinginkan oleh lalat-lalat ini.

“Ah, kasihan sekali. Jangan khawatir, malam ini kamu istirahat saja,” Pria itu tersenyum puas, mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. “Mari kita hangatkan tangan yang dingin itu.” Dialog telah berakhir, tawar menawar dimulai.

Amorphophallus menerima uang itu dengan kedua tangan, matanya lurus menatap pria tua, bukan lembaran kertasnya. “Terima kasih, Pahlawanku,” katanya, menekan kata ‘Pahlawan’ agar terdengar tulus, padahal di kepalanya ia sedang menghitung berapa banyak lagi lembaran kertas yang harus dia kumpulkan untuk bertahan hidup.

Dia menari, menari dalam alunan ekstasi. Gerakannya menyebarkan euforia, membuat gila siapa pun yang melihatnya. Setiap sentuhan yang diberikannya, setiap kecupan yang dilemparnya bukanlah sebuah hasrat. Itu adalah bentuk tawar menawar dunia yang dihuninya. Kecupannya adalah harga yang dibayar, sentuhannya adalah perpanjangan dari kontrak hidupnya. Logika yang membuatnya tetap tegar, bukan sekedar dorongan birahi.

Setelah pria itu pergi, Amorphophallus segera beranjak ke kamar mandi. Dia membersihkan dirinya dengan gerakan yang nyaris mekanis. Kepalanya menunduk, menggosok tubuhnya dengan keras seakan hal itu bisa melunturkan bau busuk yang menempel pada tubuhnya. Dia tidak mendongak untuk menatap cermin dan memastikan tidak ada jejak sebelumnya. Karena dirinya terlalu takut untuk melihat Bunga Neraka itu menatap balik dirinya. Itu hanya akan membuatnya semakin sadar betapa hina hidupnya.

Dia kembali duduk di bilik remang. Di meja, ponselnya berkedip, sebuah pesan dari bosnya masuk.

Bos (01:15): Next klien Wali Kota. Cepat. Malam masih panjang. Pastikan tubuhmu bersih saat pria terhormat itu datang.

Amorphophallus menarik napas dalam. Dirinya tertawa, sebuah tawa anggun yang menusuk. Kedua tangannya terangkat, membiarkan matanya leluasa menatap tangan kotornya. “Lucu, dunia menuduhku kotor hanya karena aku menjual tubuhku, padahal mereka yang membeli tetap disebut terhormat.”

Amorphophallus mendongak, berusaha kembali merekah. Bau busuknya yang mistis itu kembali menguar. Tidak ada yang tahu bahwa sesungguhnya bau itu adalah perlindungan terakhir yang dimilikinya. Ia tahu, jika ia berhenti berbau busuk, jika ia berhenti memainkan peran Amorphophallus, ia hanya akan menjadi kayu tak berharga di antara bara neraka. Hidupnya tak akan berlanjut tanpa bau yang menyengat ini.

Ia menyentuh pipinya, merasakan kulitnya yang kembali dingin di balik sisa bedak tebal. Ia memasang kembali senyum madu semanis madu itu. Dia kembali berdiri, melangkah menuju kursi tempatnya dipuja.

“Aku hanya berlindung dari lapar serigala,” bisiknya pada keheningan. “Dan untuk hidup, aku harus mekar lagi.”

Ia hanya ingin bertahan, meski harus menjadi bunga neraka yang menari di atas logika dan harga diri yang sudah tidak ada artinya. Dan ironinya, bunga itu masih berharap untuk mekar bukan karena gelapnya malam tapi karena hangatnya sang surya.

— Tamat—