Belakangan aku sering mikir tentang orang-orang yang udah nggak ada. Bukan cuma soal kepergian mereka, tapi juga tentang sisa-sisa yang masih tinggal waktu mereka udah pergi. Kayak ada “klausa” yang nggak ikut mati — kalimat yang belum sempat selesai, tapi tetap terus berjalan di kepala orang lain.
Misalnya, kebiasaan kecil yang nggak bisa dihapus.
Cara mereka menata meja, cara mereka nyebut nama kita, atau bahkan nada suaranya waktu manggil dari kejauhan. Hal-hal yang nggak besar, tapi diam-diam nempel di hidup kita kayak tanda baca yang nggak bisa dihapus dari paragraf lama.
Kadang aku ngerasa aneh, karena manusia bisa benar-benar pergi, tapi ceritanya tetap bersuara lewat hal-hal kecil yang nggak disengaja dan gak pernah terbayang sama kita. Ada yang hidup lewat dari aroma kopi, dari lagu yang tiba-tiba nyala di tempat umum, atau dari foto yang muncul di memori ponsel tanpa diminta. Mereka tetep hidup walaupun wujud mereka udah gak ada
Aku jadi sadar, mungkin manusia emang nggak akan punya akhir yang benar-benar titik. Manusia cuma berpindah bentuk: dari wujud jadi kenangan, dari suara jadi gema, dari kehadiran jadi cerita. Kita semua meninggalkan “klausa” — bagian kecil dari diri kita yang ngikutin hidup orang lain.
Mungkin nanti, kalau aku pun udah nggak ada, aku juga bakal ninggalin sesuatu kayak gitu. Bukan sesuatu yang gede pastinya, mungkin cuma dari cara aku nulis, atau kata-kata yang pernah gak sengaja aku ucapin. Dan aku rasa, itu nggak apa-apa.
Karena mungkin hidup memang tentang ninggalin bekas yang halus, nggak harus diingat semua orang, tapi cukup bikin satu-dua orang berhenti sejenak, terus bilang dalam hati: “oh, aku pernah kenal dia.”
Dan di situ, mungkin aku masih hidup —bukan di sebuah napas, tapi di kalimat orang lain.
Tetep berbuat baik ya teman, bukan baik yang umum tapi baik menurutmu. Karena baik itu cuman persepsi yang bisa berubah ngikutin subjek.

0 Komentar