Aku melihatnya dari layar kaca.
Senyum indah malu-malunya sungguh terbaca.
Aku tak tau namanya, yang ku tahu hanyalah fakta bahwa dirinya suka membaca.
Hatiku bergetar penuh suka cita.
Oh..
Inikah jatuh cinta?
Di atas kasurnya Lembayung berguling kesana-kemari selepas puisi mendadak itu dia tuliskan di buku hariannya. Pipinya memerah, senyumnya merekah, matanya tak henti-hentinya menatap wajah seorang pemuda yang muncul di beranda media sosialnya. Jari-jarinya menekan tombol like berkali-kali dengan gemas, namun seketika itu juga dirinya langsung menarik likenya kembali, tersadar bahwa dirinya baru saja melakukan tindakan memalukan yang tidak bisa diterima oleh akal sehatnya.
"Ya Tuhan, aku baru tau ada manusia kayak begini!!" Gadis itu menjerit tak karuan, hingga kasurnya berantakan tak beraturan, bantal dan selimut terlempar tak tentu arah.
Di layar ponsel, pemuda itu terlihat sedang memegang sebuah buku bersampul usang. Tatapannya teduh, fokus pada kamera, namun ada semburat malu yang tercetak di sudut bibirnya—persis seperti yang Lembayung deskripsikan dalam puisinya. Di bawah video singkat itu, tertulis caption yang sederhana, “I just finished reading another world.”
Lembayung menarik napas panjang, menahan gemuruh di dadanya. Pemuda itu memancarkan aura ketenangan dan kecerdasan yang selama ini Lembayung cari-cari, jauh dari hingar-bingar tren populer media sosial yang biasa ia lihat. Setiap katanya terasa tulus, setiap jeda dalam kalimatnya terdengar berharga.
Ia kembali menyentuh layar, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Nama akunnya hanya rangkaian huruf acak yang tidak berarti, tanpa foto profil yang jelas, kecuali satu highlight video yang menampilkan rak buku kayu yang penuh sesak. Tapi, dari potongan video pendek ini saja, Lembayung sudah merasa jiwanya terpaut.
"Dia... dia nyata?" bisiknya pada dirinya sendiri, seolah-olah penemuan ini adalah sebuah keajaiban yang tak mungkin terjadi. Lembayung bangkit, lalu berjalan mondar-mandir di kamarnya yang beraroma buku dan kopi dingin. Ia berusaha keras menahan diri untuk tidak melakukan tindakan bodoh: mencari tahu semua tentang pemuda itu dalam satu malam, atau yang lebih parah, mengirim pesan yang akan membuatnya terlihat seperti penguntit.
Ini bukan sekadar kekaguman. Ini adalah pengakuan. Pengakuan bahwa ada hati lain yang mungkin berdetak dalam ritme yang sama dengannya, sebuah hati yang menghargai ketenangan sebuah kata-kata di atas kertas. Dan sekarang, hatinya yang sudah lama sepi, terisi penuh dengan harapan yang belum bernama.
Lembayung kembali ke kasurnya, memeluk buku hariannya erat-erat, seolah kata-kata yang baru ia tuliskan memiliki kekuatan magis. Malam itu, di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, Lembayung tahu, hidupnya baru saja menemukan babak baru yang tidak pernah ia duga. Babak yang dimulai dari sebuah wajah asing, dan janji sunyi yang tersembunyi di balik senyum malu-malu di layar kaca.
Bersambung...

0 Komentar