Semua manusia hidup di bawah bayangan. Mabuk, membentur semu antara fakta dan khayalan di kepala. Mereka berenang dalam lautan kebohongan yang mereka ciptakan sendiri. Memajang wajah berseri, tapi lupa jati diri.
Aku duduk di bangku kelas, menatap dosen yang terus berkicau tentang penelitian. Aku tak mengerti. Entah karena cara mengajarnya yang tak menarik hati, atau karena diriku terlalu bodoh untuk memahaminya. Tapi, bodoh diperlukan untuk mengerti. Kita tak akan mengerti jika sebelumnya kita tak pernah bodoh.
Lantas, setelah perasaan bodoh yang terus bersemayam dalam tubuh ini, mengapa juru kunci tak kunjung menghampiri?
Aku duduk di atas kursi ini setiap hari, dijejali materi. Lima semester telah ku lalui, tapi pemahamanku selalu berhenti di ambang pintu logika. Aku tak menangkap maksudnya. Semua materi terasa begitu jauh dan tak mungkin terjangkau olehku.
Tapi ironi—setiap pergantian semester, aku justru mendapatkan nilai tinggi. Angka yang tak pernah kusangka bisa kudapatkan semudah ini. Semuanya terasa begitu licin, begitu mulus, hingga aku merasa takut kalau-kalau aku terjatuh di atas jalan yang terlalu sempurna.
Semua ini bagai kode yang tak memiliki kunci.
Mengapa, padahal aku mendapatkan nilai yang begitu tinggi, tapi mengapa rasanya begitu kosong? Mungkinkah kebodohan justru bersembunyi di antara angka-angka tinggi yang dulu hanya ada dalam mimpi?
Ah, ironi—sungguh ironi.
Aku terus berputar-putar, terjebak pada kenyataan di atas kenyataan.
Mungkin memang tak ada yang perlu dimengerti.
Mungkin, pengetahuan hanyalah lingkaran tanpa pusat, dan aku hanya titik yang terus berputar di tepinya. Dan jika juru kunci tak pernah datang, barangkali karena pintunya tak pernah dikunci.

0 Komentar