Ruang interogasi itu kini kosong. Kursi yang dulu ditempati Golden sudah dipindahkan, tapi bayangannya seperti masih tertinggal danduduk di sana, menatap tajam lewat pantulan kaca satu arah. Setiap kali Rahmat melewati ruangan itu, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sebuah rasa antara sesal, takut, dan rasa ingin mengerti.
Sudah berbulan-bulan berlalu sejak kasus itu ditutup. Tapi satu kalimat Golden masih terus menggaung di kepalanya, “di dunia tempat semua orang merasa benar, siapa yang sebenarnya gila?”. Pertanyaan itu terus memantul di kepalanya, membuatnya tak tenang seakan tak mengizinkan Rahmat untuk tidur tanpa beban setiap malamnya.
Dan sore ini, Rahmat datang ke masjid kecil di pinggir kota. Ia duduk di serambi, menatap anak-anak bermain kejar-kejaran di halaman. Mereka tertawa, tanpa tahu dunia bisa sekejam apa di luar sana.
Seorang lelaki tua, penjaga masjid, duduk di sampingnya. Wajahnya keriput, tapi tenang seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan hidup.
“Masih kepikiran tentang anak muda itu?” tanyanya. Matanya yang teduh menguarkan rasa tenang yang tak bisa dijabarkan.
Rahmat terdiam lama sebelum menjawab, “Dia bilang hidup gak adil. Dan mungkin dia benar.”
Lelaki tua itu tersenyum samar. “Tentu hidup gak adil, Nak. Karena keadilan itu bukan untuk dibagi rata. Keadilan itu tentang keseimbangan dan keseimbangan gak selalu terlihat adil bagi mereka yang cuma melihat dari satu sisi dimana dia tinggal.”
Rahmat menatapnya, bingung. Lelaki itu melanjutkan, nadanya perlahan tapi menembus relung hatinya, “kamu lihat gunung dan lembah? Yang satu tinggi, yang satu rendah. Tapi tanpa keduanya, gak ada aliran air. Kamu lihat siang dan malam? Yang satu terang, yang satu gelap. Tapi tanpa keduanya, manusia gak akan tahu kapan waktunya beristirahat. Dunia gak diciptakan untuk selalu adil di mata manusia tapi untuk selalu seimbang di mata Tuhan.”
Hening menelan udara di antara mereka. Rahmat baru sadar, selama ini ia ingin dunia terasa adil baginya, bukan menjadi adil pada tempatnya.
“Kalau begitu,” gumamnya, “apa gunanya hukum kita, kalau ujungnya semua sudah diatur?”
Lelaki tua itu menatap langit sore yang mulai oranye. “Gunanya adalah agar manusia tidak lupa, bahwa mereka bukan Tuhan. Kita menegakkan hukum bukan untuk menyamai keadilan Tuhan, tapi agar kita tidak sepenuhnya kehilangan arah. Dunia memang tampak kejam, tapi justru di sanalah keadilan sejati bekerja. Dalam ketimpangan, dalam luka, dalam hal-hal yang kita sebut tidak adil.” Lelaki itu itu menepuk punggung Rahmat pelan, berusaha mentransfer pemahaman yang selama ini Rahmat cari.
Rahmat terdiam. Kalimat itu terasa seperti membuka sesuatu di dalam dirinya yang selama ini terkunci.
Ia memandang anak-anak itu lagi, yang satu tertawa paling keras, yang lain jatuh dan menangis. Dan entah kenapa, pemandangan sederhana itu kini terasa masuk akal. Mungkin dunia memang tak seimbang di pandangan manusia.
Tapi mungkin juga ketidakseimbangan itulah bentuk keseimbangan lain yang lebih sejati.
Sore itu, Rahmat akhirnya paham. Bahwa keadilan Tuhan bukan berarti semua orang mendapat hal yang sama, tapi tentang makna yang tersirat jika tidak ada satu pun yang terjadi tanpa alasan. Dan mungkin, tugas manusia bukan mencari rasa adil, tapi belajar percaya bahwa mereka hidup pada neraca yang tak terlihat.
Lelaki tua itu bangkit, lalu berkata pelan sebelum berjalan masuk ke dalam masjid, “Suatu hari... ajaklah anak muda itu ke sini.”
Behind the Story
Akhirnya pertanyaan di cerpen golden sebelumnya, yang aku tulis tiga tahun lalu dapet jawaban. Sebuah jawaban yang gak ngehakimin manusia, sebuah jawaban yang ngasih kesempatan buat semua orang. Karena kita tahu betul bahwa hidup ini terlalu tidak adil buat dijalanin gitu aja, bikin kita terombang-ambing nuntuk makna keadilan yang sebenernya itu bentuknya kayak gimana. Tapi di cerpen ini aku pengen ngasih tau, bahwa manusia masih terlalu kecil buat ngerti apa itu keadilan.

0 Komentar