Pekalongan, 11 Oktober 2025


Hai, untukmu yang masih berlakon di atas panggung.

Tidakkah engkau lelah terus memainkan lakon dibalik topeng-topengmu yang apik? Aku menuliskan surat ini untuk engkau di atas gipsum topeng-topengmu, berharap dengan begitu kau bisa selangkah keluar meninggalkan realitas teatermu yang palsu itu. Aku tahu, kau sama lelahnya denganku. Karena aku adalah kau, dan kau adalah aku. Aku adalah realitas lain dari hidupmu, yang menjerit nyalak di tengah riuh tepuk tangan panggungmu yang epik.

Lihatlah panggungmu.

Kayunya reyot. Tapi dengan percaya diri kau masih berdiri di atasnya, dengan sepatu lusuh yang tak lagi pas, dengan naskah kuno yang sudah termakan zaman. Semua hal tampak mengerikan. Tapi panggung itu terus memberimu tepuk tangan, padahal aku menontonnya bagai drama penyiksaan yang tak berakhiran.

Aku melihatmu.

Wajahmu membiru di balik topeng-topengmu. Barangkali topeng-topeng itulah yang menekanmu, membuat wajahmu luka karena terus mengenakannya. Senyumanmu tak terlihat. Yang kulihat hanyalah bayangan ukiran senyum palsu di atas topeng-topeng itu, menutupi tiap getir yang hadir tiap kali kau menjalankan teks lawas itu. Kau seolah menampik bahwa teater yang kau mainkan sendirian ini sudah tak memiliki harapan.

Sudahlah, hentikan teater ini... Kau sudah bekerja terlalu berat sendirian.

Kau menulis naskah, menjadi aktor, mengatur panggung dan menjadi penonton pada waktu yang bersamaan. Kau hanya memenuhi ekspektasi mengerikan yang berjalan dalam adegan-adegan kacau di kepalamu. Terjerat oleh sorot cahaya panggung yang menyengat dan euforianya yang tak sehat.

Tapi bukankah semua ini lucu? Aku bagian dirimu, masih duduk disini menontonmu, dengan jejak pilu yang menyayat sembilu. Tapi kenapa kau tak juga sadar? Padahal aku terus berteriak dari barisan bangku paling belakang agar kau berhenti bertahan. Apakah tempat dudukku terlalu jauh, hingga suaranya tak mampu menjangkau mu?

Dengarkan aku, hentikan teater ini. Tak ada teater yang terus bermain hingga akhir zaman, semua teater butuh akhiran. Sudah saatnya kau mematikan lampu panggung dan mulai melihat betapa gelapnya panggung yang kau naiki. Biarkan topeng-topeng itu terlepas, biarkan aku melihatmu hanya sebagai kamu, tanpa senyum dan wajah palsu.

Tidak ada siapa-siapa disini. Hanya kau dan aku. Dan aku berjanji, saat kau matikan lampu itu, aku akan memelukmu bukan menertawakanmu. 


Tertanda,

Dirimu yang duduk dibarisan kursi belakang.


........

Yoo guysss!! 

Sebenernya ini masuknya ke prosa, cuman aku males nambahin kategori terus ngedit homepage biar kategorinya ada di homepage.