Hidupku bukan hidup, tapi lembar perhitungan. Semua diukur, ditaksir, dihitung oleh neraca yang tumbuh dari dalam tulang rusukku. Neraca itu bukan lagi alat ukur eksternal; ia adalah parasit yang menggantikan jiwaku, mendikte setiap detak jantungku. Bagaimana labelku, bagaimana nilai pasarku—semua hanya ditentukan oleh ayunan baja dingin itu. Aku dipaksa berlayar mengarungi badai kompetisi keji, terus menerus berenang melawan arus hanya untuk melihat angka pada neraca itu bertambah. Dan aku, aku harus melanjutkan hidup agar hargaku terus naik hingga taraf dunia, hingga aku menjadi komoditas tertinggi di pasar kesia-siaan.
Tapi aku hanyalah entitas fungsional. Aku bahkan tak yakin jika diriku bisa disebut manusia.
Kapal ini... kapal ini adalah milikku. Lambungnya adalah kulitku, tiangnya adalah tulangku, dan layarnya adalah semua ambisi palsu yang mereka hembuskan. Aku, seharusnya, adalah Kapten. Aku seharusnya memegang kendali di anjungan, merasakan getaran mesin, memutuskan arah menuju cakrawala yang kuinginkan. Namun, aku dikunci di ruang mesin yang lembab dan gelap, dirantai dengan rantai jangkar seolah aku akan ingkar.
Aku hidup terombang-ambing bagai kapal tanpa navigasi. Ironi ya? Padahal aku adalah seorang Kapten, tapi tanganku diborgol. Lalu, siapa yang mengendalikan kemudi di atas sana? Entahlah. Mereka mengatakan bahwa mereka lebih mengerti diriku. Tapi saat kemudi kapal ini diambil alih, mengapa rasanya begitu sesak?
Aku hanya bisa menunduk, mendengar langkah kaki asing, mendengarkan tawa mereka yang merayakan kecepatan dan jalur pelayaran yang menguntungkan. Mereka menjalankan kapal ini sesuai harga yang mereka taksirkan, menuju pelabuhan yang hanya menguntungkan neraca. Mereka tak membiarkan diriku mengambil kemudi di atas kapal yang aku miliki.
Seharusnya, aku yang paling tahu tentang kapal ini. Aku yang merasakan rasa sakit pada lambungnya, retakan pada haluannya. Tapi anehnya, aku hanya dianggap orang asing, hanya penumpang yang terikat di kapalku sendiri. Ketika badai datang, aku tidak punya hak untuk mengubah layar. Aku hanya bisa menunggu nasib kapal, nasibku, ditentukan oleh tangan tak terlihat di atas. Aku bahkan lupa, seperti apa kapalku seharusnya—mungkin ia seharusnya sudah lama karam, bukan berlayar dalam siksaan hening ini.
Dan di sini, di bawah geladak, aku hanya bisa berbisik, merengek pada diriku yang terasing. Aku ingin berteriak ke seluruh lautan, memohon kehancuran demi ketenangan. "Hei! Hentikanlah semua hitungan ini! Aku hanyalah debu, sebuah bentuk kehancuran! Kau tak perlu menaksir hargaku hingga sebegitunya! Biarkan Kapten ini tenggelam bersama kapalnya!"
Namun, kehendakku telah menjadi hantu yang terperangkap dalam mesin kapal ini. Suara perlawanan itu, jeritan menuntut otonomi diri, hanya bergema dan berbalik, tertawa, dan tertahan di pikiran. Dan kapal terus berlayar, sebuah sarkofagus yang berlayar dengan gagah di bawah kendali sesuatu yang bukan aku. Aku hanya bisa menunggu, sampai neraca itu akhirnya mencapai titik impas dan memutuskan, bahwa harga kapal ini sudah terlalu mahal untuk dipertahankan.
***
Maaf, maaf, maaf. Buat kalian yang baca tulisan ini, aku ingin memohon maaf sebanyak-banyaknya. Aku gatau, permohonan maaf ini tulus dari hati aku atau sekedar formalitas yang dibuat-buat. Tapi aku rasa, aku memang ingin meminta maaf. Sepertinya, sudah banyak sekali orang-orang di sekitarku yang aku sakiti.
Jujur, aku selalu melihat semua hubungan manusia itu hanya sebuah tawar menawar yang saling menguntungkan. Entah itu pertemanan, hubungan romantis, bahkan keluarga. Menjijikkan bukan? Aku menilai hubungan manusia hanya sebatas taksiran yang kualitasnya aku tentukan sendiri.
Aku takut tidak berguna.
Aku pernah menjauhi orang karena aku terlalu takut untuk ditinggal karena ketidak bergunaanku. Padahal hubungan kami baik-baik saja. Tapi rasa takut itu menenggelamkan ku hingga aku lupa caranya bernafas.
Aku selalu merasa, aku menyusahkan orang lain. Seberapa keras aku berusaha sendiri, pada akhirnya aku menyusahkan mereka. Mungkin mereka kasihan, menurutku. Aku tak bisa melihat titik dimana mereka menolongku karena aku teman mereka.
Aku bahkan merasa jika kedua orang tuaku memberi aku makan dan minum karena kewajiban mereka. Karena kejadian yang otomatis membuat mereka memberikan itu semua padaku.
Aku mengerikan.
Aku tau pikiranku menjijikkan. Aku tau bahwa pikiranku membuat kalian kesakitan. Tapi aku tak tau bagaimana cara menghentikannya. Padahal aku tidak suka dihitung tapi kenapa aku selalu otomatis menghitung?
Maafkan aku, sepertinya aku gagal menjadi manusia.
Kalian tau, saat aku menulis ini, aku merasa hanya sedang mencari pembenaran untuk diriku sendiri. Aku tidak berharap kalian mengerti apa yang coba aku katakan. Tapi setidaknya, aku harus puas karena bisa menyampaikannya pada kalian.

0 Komentar