Hai, aku Bella.
Hari ini aku cuma mau cerita sedikit, tentang sesuatu yang aku pikir dulu sederhana, tapi ternyata nggak sesimpel itu. Jadi seorang pemimpin.
Beberapa minggu ini aku dikasih tanggung jawab baru. Aku ditunjuk jadi sutradara untuk pentas seni akhir semester. Sounds cool, kan? Tapi jujur... aku panik.
Aku bukan orang yang ahli di dunia teater, bahkan kalau disuruh milih, aku lebih pengen jadi aktor daripada sutradara. Tapi hasil voting waktu itu mutlak. Nggak bisa diganggu gugat. Jadi, mau nggak mau, aku jalanin aja.
Awalnya aku semangat. Aku punya banyak ide, punya bayangan besar tentang gimana pentas ini bakal tampil di depan penonton. Aku punya idealisme sendiri , versi sempurna yang aku pengen.
Tapi di situlah aku salah. Idealismeku ketinggian, sementara kapasitasku... belum sampai ke sana. Aku lupa kalau aku masih belajar. Aku lupa kalau orang-orang yang aku pimpin juga manusia biasa yang sama bingungnya kayak aku.
Aku berharap mereka paham tanpa aku harus ngomong banyak. Aku berharap mereka bisa nangkep arah pikiranku tanpa aku harus menjelaskan semuanya. Tapi ternyata nggak bisa. Aku kecewa — sama mereka, tapi lebih banyak sama diriku sendiri.
Aku takut menegur mereka. Takut dibilang sok tahu, takut dikira menggurui. Aku ngerasa nggak pantas dijadiin panutan, karena aku sendiri masih sering ragu sama keputusan yang aku buat.
Tapi di tengah semua itu, aku mulai sadar: jadi pemimpin bukan tentang ngasih perintah, tapi belajar bareng orang lain. Kadang pemimpin juga harus berani keliatan salah, supaya timnya tahu bahwa proses itu manusiawi.
Mungkin sekarang aku belum jadi sutradara yang hebat. Tapi aku sedang belajar — bukan buat memimpin orang lain, tapi buat gak ragu sama keputusanku sendiri.
Salam admin cantik,
Bella.

0 Komentar