Ini Mimpi ku!

***

Karena suatu saat kita akan mendapatkan hasilnya.

Jadi, nikmatilah prosesnya.

***

Aku masih berdiri walau pipiku terasa panas membara. Dua tamparan sudah melayang ke wajahku, dan mungkin akan bertambah jika aku kembali melontarkan kalimat membantah lagi. Kepalaku lantas mendongak, menatap mata Ayahku dengan berani.

Aku tidak mengerti, kenapa dia begitu marah ketika aku mengejar mimpiku. Padahal, dulu dia yang pernah berkata jika aku tidak boleh pasrah begitu saja untuk menggapai mimpi. Lantas, setelah semua yang terjadi ini, kemana nasihat indahnya itu pergi?

Mulut Ayahku kembali terbuka, menandakan kalimat-kalimat pedasnya akan keluar. Aku menulikan telinga. Membiarkan kata-kata itu terdengar walau tak sampai ke otak.

Mungkin, inilah yang membuatku begitu bebal walau Ayah dan Ibuku sudah kompak melarang ku untuk terus melanjutkan mimpiku sejak empat tahun yang lalu. Sejak mereka tahu jika menggambar bukanlah sebatas hobiku, namun juga hidupku.

Yah, seharusnya waktu itu aku tidak secara gamblang mengatakan pada mereka bahwa saat besar nanti aku akan menggantungkan nasib hidupku pada gambaran-gambaranku. Menjadi animator. Waktu itu aku terlalu naif untuk seorang anak SD.

Tapi seperti kata Ayah saat dia tengah menasihati ku setiap akan beranjak tidur. Aku tidak boleh menyerah. Aku akan memperjuangkan mimpiku.

Aku tersentak. Lamunanku buyar. Satu tamparan kembali membuat pipiku berdenyut. Belum lagi saat ini Ayah lebih anarkis karena mulai memukuliku dengan tinjunya. Mungkin dia tau jika aku tidak mendengarkannya sedari awal dia berbicara tentang mimpi-mimpiku yang nampak bodoh dimatanya itu.

Aku terbatuk, darah keluar dari mulutku hingga aku tersungkur karena nyeri hebat di perutku. Kurasa, Ayah mulai keterlaluan. Bagaimana bisa Ayah sebijak dia bisa sekasar ini hingga membuat puteranya sendiri tersungkur dengan mulut yang mengeluarkan darah.

“Cu-cukup, Yah,” Pintaku lemah. Aku bisa mati disini jika dia terus melanjutkan aksinya yang ingin membuatku jera. Jika aku mati sekarang, bagaimana dengan mimpi-mimpiku.

Aku mendongak, menatap Ayah yang tengah berdiri sambil bersedekap dada dengan mata lebamku. Aku tatap matanya, berharap dia kasihan kepada anaknya yang dia buat babak belur sedemikian rupa.

Ayah terdiam. Dia tidak lagi memukuliku. Matanya fokus pada diriku sedangkan mulutnya berkomat-kamit mengatakan kalimat yang membuatku menggigil di tempat.

“Ma, ambil laptop sama ponselnya, sekalian buku-buku sama pensil-pensilnya!” titahnya telak pada ibuku yang sedari tadi menonton dan langsung dituruti olehnya.

Aku menggigil. Membayangkan hal kejam apa yang akan Ayah lakukan pada laptop beserta teman-teman yang sudah menemani hari-hariku. Aku tidak bisa membayangkannya, terlalu mengerikan untuk sebuah dugaan.

“Jangan,” uca pku dengan air mata yang mulai menumpuk dipelupuk mataku.

Aku masih bisa hidup tanpa buku-buku yang berulang kali Ayah bakar didepan mataku. Aku masih bisa hidup walau sering dibuat babak belur setiap kali ketahuan menggambar. Aku masih bisa hidup walau Ayah dan Ibuku menentang keras mimpiku.

Tapi, aku tidak bisa hidup tanpa laptop dan ponselku. Didalamnya ada ribuan gambar-gambar yang sempat aku abadikan dari buku-buku yang Ayah bakar. Didalamnya ada ratusan desain grafis dan ratusan gambar-gambar yang aku buat disana. Aku tidak bisa membayangkan jika itu semua dihancurkan didepan mataku.

Mama sampai bersama bibi yang membantunya membawa barang-barang yang tidak sedikit itu. Kulihat bibi menatapku dengan tatapan mengiba, dan meminta maaf melalui matanya karena dirinya tidak bisa apa-apa.

“Ini kan yang bikin kamu bebal?!” teriak Ayah sambil menunjukkan ponselku dengan tangan yang bergetar karena emosi.

Aku mendongak, menatap ponsel itu dengan nanar. Tangan Ayahku kemudian bergerak, melempar ponsel yang baru dibelikannya tahun lalu tepat didepan wajahku. Belum cukup sampai situ, dia menginjak ponsel tersebut sekuat tenaga.

Aku menjerit keras. Melupakan rasa nyeri yang sebelumnya menjalar-jalar di seluruh tubuhku. Tidak-tidak. Aku tidak menyangka Ayah akan senekat itu hingga menghancurkan barang elektronik yang harganya tidak bisa dikatakan murah.

Tubuhku merangkak, mengambil ponsel yang hancur itu dengan mata bercucuran air mata. Hidupku. Kenapa Ayah begitu tega hingga menghancurkan ini? Kenapa Ayah begitu tega hingga membuat liku panjang menuju mimpi anaknya ini?

Ayah menendang tanganku, membuat ponselku terpental entah kemana. Dia kemudian menarik ku berdiri, memaksaku untuk menatapnya dengan mata yang bercucuran air mata ini.

“Gak malu kamu sama diri sendiri?” bentak Ayah sambil menggoncang tangannya yang bertengger disisi kerah kemejaku. “Liat Tian kakakmu! Dia tembus masuk kedokteran Harvard. Dan gak sampai disitu, dia juga dapet beasiswa disana!”

Ah, Kakakku. Bintang Kejora di keluarga ini. Dia punya bakat diluar nalar. Hanya butuh satu kali untuknya mengingat semua materi yang disampaikan padanya. Tidak sulit untuknya mendapatkan peringkat paralel atau menjuarai perlombaan sains nasional. Tidak terlalu sulit juga baginya untuk mendapatkan prestasi mengharukan dikancah internasional.

Dia kakakku. Kakak laki-laki yang hanya berbeda empat tahun denganku. Seorang anak laki-laki membanggakan yang berhasil mendapatkan 200 penghargaan sains ketika umurnya baru menginjak seusiaku. Dia terlalu menyilaukan jika disandingkan denganku.

“Sedangkan kamu?” tanya Ayah dengan nada meremehkan. “Jangankan masuk Harvard! Kamu masuk SMAN 6 ini pun terseok-seok!”

Aku menatap Ayah kosong. Ucapannya tidaklah salah. Karena untuk duduk dikelasku sekarang, aku membutuhkan usaha panjang mendapatkannya. Aku ditolak pada seleksi masuk jalur prestasi. Menempati jajaran terakhir saat pengumuman seleksi masuk jalur reguler. Aku tidak secermelang itu jika dibandingkan dengan Septian, kakakku.

Tapi, seperti kakakku. Aku juga memiliki piala-piala. Aku juga memiliki penghargaan. Namun semua itu sudah dibumi hanguskan oleh Ayahku. Karena semua itu aku dapatkan dari hobiku menggambar.

“Kenapa?” tanyaku dengan mata yang bercucuran air mata. “Kenapa Ayah memandang begitu rendah mimpiku? Aku hanya mengejarnya, Ayah cukup mendukungku. Padahal Ayah yang mengajariku cara untuk menggantungkan mimpi setinggi langit. Tapi kenapa begini?”

Aku menangis, tidak peduli jika Ayah semakin menghajar ku karena aku selemah ini. Tidak peduli saat Ayah melempar ku hingga aku kembai terbaring dilantai. Tangisku malah kian mengeras, ketika Ayah dengan teganya menghapus semua folderku yang ada di laptop. Ayah bahkan tega merusak papan digital yang aku beli susah payah untuk memudahkan ku menggambar di laptop.

Aku menjerit. Kenapa Ayah memperlakukanku berbeda dengan Kak Tian. Padahal aku sama berbakatnya walau berbeda bidang. Padahal penghargaan ku sama banyaknya dengan dirinya. Kenapa aku dipandang begitu rendah dengan satu-satunya bakat yang aku miliki? Seakan aku memimpikan sesuatu yang paling buruk untuk digapai.

Ya Tuhan, aku tidak mengerti bagaimana cara Ayah menilai sesuatu hingga bisa disebut berharga. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membuktikan bahwa mimpiku sama berharganya dengan mimpi-mimpi orang lain.

Sekarang, ponselku sudah hancur lebur. Laptopku sudah diambil. Semua buku-buku dan alat tulis ku dibakar oleh Mama. Aku harus bagaimana? Aku tidak mau berhenti mengejar mimpiku diumur ku yang baru 16 tahun ini.

Aku menangis. Apalagi ketika Ayah berjalan pergi setelah mengatakan bahwa aku anak egois, pembangkang, dan durhaka. Aku terkapar dilantai ruang keluarga dengan tubuh babak belur dan mulut berdarah.

Mataku menatap kosong. Memikirkan kenapa jalanku begitu panjang dan terbelit-belit. Hingga akhirnya aku tertawa kecil, teringat akan serpihan fakta yang selama ini hanya menyempil dipojok pemikiran.

Ayahku seorang profesor, sedangkan Mamaku seorang dokter. Tidak lama lagi, Kak Tian akan masuk kedalam dunia mereka. Keluargaku terikat dengan segudang prestasi tentang sains. Mungkin, itulah penyebab mengapa memandang begitu rendah mimpiku yang keluar dari lingkarannya.

Mereka hanya tidak mengerti tentang bakatku.

Aku tersenyum kecil, memaklumi hal tersebut walau nyatanya terlalu menyakitkan. Aku bangkit duduk, kurasakan bibi yang baru saja masuk setelah membantu Mama membakar barang-barangku mendekap ku. Beliau menangis, mengucapkan sepenggal kalimat untuk membesarkan diriku.

“Mereka cuman gak paham Bi,” ucapku pelan.

Aku belum menyerah. Ini mimpiku. Aku telah menggantungkannya dilangit. Terlalu tinggi. Karena itulah jalan yang kulali terjal dan begitu panjang.

Aku tidak boleh menyerah. Mimpiku bergantung padaku. Jika bukan aku yang mengambil mimpiku, siapa lagi?

Aku baru saja terjatuh diantara bintang-bintang. Aku belum gagal. Aku masih bisa bangkit dan memulai semua dari lagi. Aku tidak boleh menyerah. Karena ini jalanku.

Ini semua perjalananku. Pelajaran ku. Di depan sana masih banyak rintangan yang harus aku lewati. Aku tidak boleh berhenti disini. Perjalananku masih panjang. Perjalananku masih berlanjut.

Tuhan, aku tidak akan menyerah begitu saja atas ujian yang engkau berikan. Atas nama mimpiku, aku berjanji akan menyumpal mulut-mulut itu dengan keberhasilanku.