***


Bersabarlah..

Semua yang kamu lakukan tidak akan mengecewakan.

Hargai semua prosesnya.

Karena di masa depan, kamu akan menuai hasilnya.


***


Seorang pemuda tampak tengah terduduk dengan tegang dikursi ruang tamunya. Dipangkuannya sebuah laptop tampak menunjukkan sebuah hitungan mundur. Dengan gelisah, pemuda itu menunggu detik demi detik yang terasa begitu lambat.

“Silver, bagaimana hasilnya?” tanya seorang wanita yang sedari tadi menunggu kabar baik dari anaknya.

“Gak tau, masih nunggu.” Jawab Silver sambil berpaling kearah ibunya. “Apakah kamu mau, Bu?”

Wanita itu menangguk. “Iya dong, masa Mamamu ini gak doain kamu?” canda wanita itu berusaha mengurai ketegangan anaknya. “Pasrahkan aja, gak usah dibawa tegang. Anak Mama pasti dapet yang terbaik.”

Silver menangguk sekilas, matanya kembali fokus pada layar laptop dipangkuannya. Jantungnya seakan ingin meledak ketika melihat angka-angka yang terus berganti itu. dengan gemas, pemuda itu meremas celana yang dikenakannya.

"Inget ya Silver, jangan memaksakan kehendak kamu. Allah sudah menyiapkan semua untuk kamu." Nasehat Ibunya seakan tahu jika Silver sangat mengharapkan hasil seleksi kali ini. “Kamu pasti lolos masuk ke perguruan tinggi negeri. Kalau tidak lewat jalur ini, mungkin jalur lainnya.”

“Tapi aku gak mau ngecewain Mama sama Papa.” Ucap Silver pelan. Penyebab rasa gundah yang dia pendam selama menunggu pengumuman ini akhirnya tersampaikan.

Mendengar itu, Ibu Silver tertawa. Merasa geli dengan tingkah anaknya yang bisa begitu menggemaskan. “Serius deh, rasanya Mama bakal kejam banget kalau kecewa sama kamu yang udah usahain semua yang kamu bisa buat banggain Mama.” Ujar wanita itu yang tak mampu merubuhkan gunungan kegelisahan yang menumpuk di hati Silver.

Perak tidak menjawab. Pemuda itu terlalu fokus menatap layar laptop yang menunjukkan hitungan mundur. 16 detik lagi. 16 detik lagi jawaban atas kegelisahannya selama satu bulan ini keluar. Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan.

“Ayo.. ayo.. masuk akun kamu!” seru Ibunya yang tau-tau sudah duduk disebelahnya.

Dengan jantung yang bagai dipompa kuat, gemetar, Silver melakukan apa yang diperintahkan ibunya. Pemuda itu menggeram tatkala sinyal ponsel yang dia gunakan untuk memberikan pasokan internet pada laptop menurun. Hampir saja dia membanting ponselnya kalau saja ibunya tidak langsung menghentikannya.

“Sabar Silver. Banting Hp gak nyelesaiin masalah kamu.” Peringat Ibunya yang dibalas hembusan nafas berat oleh pemuda itu.

Dan ketika hasil pengumuman itu muncul, jantung Silver rasanya akan meledak. Warna merah yang seolah membutakan matanya dengan tulisan kapital yang menyatakan bahwa dia gagal dalam seleksi kali ini membuat dirinya seolah terhempas dari angan-angan.

Pemuda itu juga terkekeh suram. Kepalanya menoleh kearah ibunya dengan mata yang berkaca-kaca. “Maaf ya Bu, aku gak lolos disini.” Ucapan pemuda itu yang langsung disambut oleh dekapan ibu.

“Mama udah bilang gak papa, bukan? Kenapa malah nangis? Dasar anak cengeng.” Ucap ibunya dengan nada geli sambil mengelus punggung anaknya yang bergetar. “Ikhlasin ya Silver, rezeki kamu bukan disini.”

Silver hanya menangguk. Dirinya tidak sanggup menjawab setelah penolakan kedua yang barusan diterimanya. Walau Ibunya terus berkata dia tidak akan kecewa akan semua hasil yang diperolehnya, hal itu tidak lantas membuatnya tenang. Semua perkataan Ibunya malah semakin membuatnya terbebani.

“Lusa ada pengumuman lagi, kan?” tanya Ibunya yang diangguki Silver. “Sabar ya, hal terbaik lagi nunggu kamu didepan.”

Lusanya Silver kembali menerima sebuah penolakan. Begitupun dengan dua pengumuman selanjutnya yang lagi-lagi menolaknya. Semua Universitas negeri seakan sudah bekerja sama untuk membuat mental Silver down dalam waktu yang cukup singkat.

Tiga Politeknik sudah menolaknya, satu sekolah kedinasan dan dua universitas negeri sudah menolaknya. Tinggal satu lagi pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi islam yang mungkin kembali membuatnya kecewa.

Dengan semua penolakan yang dia dapat sebelumnya, Silver jadi tidak terlalu berharap pada hasil pengumuman kali ini. Dia tidak ingin kecewa untuk keenam kalinya dibulan yang sama.

Jadi, ketika dirinya lagi-lagi membaca sebuah kalimat penolakan yang diketik dengan kalimat halus, dia tidak begitu kaget. Dia hanya berdecak kecil, lantas menutup laptopnya dengan perasaan dongkol.

“Ini yang terakhir. Mama yakin gak kecewa sama aku?” tanya Silver dengan nada menyebalkannya.

“Yakin dong. Yang baru kamu lakuin kan baru seleksi berdasarkan prestasi. Masih ada jalur tes sama mandiri.” Ucap Ibunya masih dengan nada santainya.

“Terus apa gunanya aku dapet nilai paling tinggi dari satu angkatan kalau jalur prestasi aja gak lolos?” tanya Silver sambil berteriak frustasi. “Apa gunanya piagam-piagam itu. Apa gunanya, Ma?”

Ibu Silver yang melihat itu jadi menghela nafasnya gusar. Dia tau betul anaknya begitu ambisius. Semua prestasi yang dia dapatkan membuatnya jadi lupa. Kalau semua usahanya kembali bergantung pada keputusan Yang Kuasa.

Wanita itu kemudian berjalan mendekati Silver. Dengan erat dia mendekap tubuh anaknya yang tengah diliputi emosi. Wanita itu berbisik pelan, berusaha menenangkan anaknya tanpa kekerasan.

“Dari awal mama udah bilang, pasrahin Silver. Semua yang kamu mau kalau Allah gak ngeridhain kamu gak bakal dapet.” Ucap Wanita itu serupa bisikan. “Untuk semua piagam itu, untuk semua prestasi kamu. Memangnya kamu nyesel dapet semua itu? Semua hal yang udah bikin mamamu ini bangga?”

Silver terdiam, nafasnya memburu. Dia tidak lagi berbicara, sibuk mengatur emosinya yang bergejolak. Ibu Silver yang melihat itu tersenyum, tangannya kembali mengelus punggung anaknya.

“Jadi Silver, jangan menyerah, ya? Masih banyak jalan yang tersedia buat kamu masuk perguruan tinggi.”

Kepala pemuda itu menangguk, tangannya kini membalas pelukan ibunya dengan erat. Walau kini masih sama hancurnya, setidaknya dia masih memiliki kedua orang tua yang selalu mendukungnya dan menjadi cadangannya untuk pulang.

“Terima kasih, Ma.”

Kini dia hanya bisa kembali berusaha, lalu membuat keduanya bangga.