Paradoks
“Karena kita ada untuk saling melengkapi.”
—Golden
Ruang interogasi itu dingin, bukan dingin yang sejuk, melainkan dingin yang lembap dan menusuk tulang, khas ruang tertutup tanpa matahari. Lampu neon di langit-langit, putih keabu-abuan, bergetar pelan seperti sedang sekarat, menghasilkan dengung frekuensi rendah yang mengikis syaraf.
Di tengah ruangan, duduk Golden. Rambutnya dicat kuning platinum, kontras mencolok dengan kulit pucatnya. Ia mengenakan jaket hoodie yang kotor dan robek di siku—pakaian yang sama yang ia kenakan saat ditangkap. Ia duduk dengan tangan terlipat di dada, bahunya rileks, seolah ia bukan tersangka utama kasus pembunuhan berantai, melainkan seorang kritikus seni yang bosan.
Satu polisi, Aiptu Rahmat, yang wajahnya penuh garis lelah, mengetik di komputer. Sementara yang lain, Bripka Sandi, yang lebih muda dan tegang, membolak-balik berkas tebal di tangannya. Sesekali Sandi menatap Golden, namun Golden hanya tersenyum samar—senyum yang terasa seperti bekas luka.
“Golden,” gumam Rahmat, suaranya serak. "Nama yang... menarik."
Golden mengangkat dagunya. Gerakannya lambat, seperti menikmati setiap detik perhatian yang diberikan kepadanya. “Bapak mau tahu kenapa saya dikasih nama itu?” tanyanya dengan senyum lebar yang terasa ganjil. Gigi-giginya tampak terlalu putih di bawah cahaya neon.
Rahmat menghela napas, mengikuti alurnya. "Karena kamu berharga, mungkin?"
“Lima dari seratus, Pak.” Golden mengangkat kelima jarinya yang kurus, jemarinya bernoda tinta hitam.
Sandi, yang sejak tadi diam, akhirnya bertanya dengan nada penasaran yang tak bisa disembunyikan. “Kenapa lima?”
“Karena keluarga miskin seperti saya, Pak… gak melahirkan emas. Mereka cuma berusaha percaya bahwa yang mereka pelihara bisa jadi emas. Nama itu bukan doa, tapi ilusi. Sebuah kebohongan yang diulang terus supaya kelihatan masuk akal. Agar mereka punya alasan untuk terus menjaga saya.” Rahmat terdiam. Golden melanjutkan, matanya yang berwarna cokelat gelap berkilat aneh.
“Bapak tahu rasanya tumbuh sambil dianggap benda? Diukur nilainya setiap hari? Semua kasih sayang yang bapak pikir ada, cuma bentuk investasi. Makan supaya bisa kerja. Hidup supaya bisa berguna. Saya pernah jatuh sakit saat kecil, Pak. Ibu saya menangis bukan karena takut saya mati, tapi karena takut investasinya gagal.” Golden merengut, pemuda itu menampilkan wajah sedih yang terstruktur. “Kalau gagal, dibuang.”
Sandi mencondongkan tubuh sedikit. “Jadi kamu menganggap orang tuamu menyiksamu? Ini pembelaanmu?”
Golden tertawa kecil—bukan tawa bahagia, tapi tawa yang kering dan kasar, seperti suara robekan kain yang dingin. “Mereka gak salah, Pak. Saya juga gak benar. Dunia ini cuma tempat buat yang paling rasional bertahan. Dan di mata mereka, rasionalitas adalah untung-rugi.”
Rahmat mencondongkan tubuhnya ke meja, berusaha menahan emosi. “Kamu sadar kamu telah membunuh empat orang, kan? Empat orang yang tidak ada hubungannya dengan masa lalumu.”
Ketegangan di ruangan itu kental, menembus paru-paru hingga terasa sesak.
Golden menatap lurus ke arah Rahmat. Tenang. Datar. “Saya sadar, Pak. Tapi mungkin Bapak yang belum sadar—bahwa ‘membunuh’ itu cuma kata kerja. Maknanya tergantung siapa yang punya kuasa untuk mendefinisikan.”
Suara keyboard di sudut ruangan berhenti. Sunyi terasa seperti dinding tebal ketiga di antara mereka.
“Korban pertama saya, seorang bankir. Dia membanggakan betapa banyak 'aset' yang dia miliki. Korban kedua, seorang manajer outsourcing. Dia menyebut pegawainya sebagai 'sumber daya yang bisa diperbarui'. Korban ketiga dan keempat adalah pasangan suami-istri yang berulang kali mengunggah foto anak mereka di media sosial dengan caption 'Investasi masa depan kami yang paling berharga.'”
Golden menyandarkan punggungnya, sorot matanya tajam dan menghakimi. “Mereka semua berbicara tentang nilai. Mereka berbicara tentang manusia sebagai komoditas. Mereka hidup dalam kebohongan yang sama dengan nama saya. Mereka membunuh kemanusiaan setiap hari melalui kata-kata mereka, Pak. Saya cuma melakukan versi yang lebih jujur.”
“Kamu cuma membenarkan diri sendiri dengan filsafat murahan!” bentak Sandi, suaranya meninggi.
Golden terkekeh lagi, pelan tapi menusuk. “Bukankah semua orang begitu, Pak? Bahkan Tuhan pun—kalau saya boleh jujur—membenarkan kehendak-Nya sendiri. Bedanya cuma, Dia punya alasan kosmik. Saya cuma punya duka personal.”
Ia menatap tangan kirinya, seolah sedang memegang kenangan. “Saya tumbuh dari reruntuhan, Pak. Di tempat seperti itu, kebaikan bukan jalan keluar—itu jebakan. Orang baik cepat mati. Orang lembut cepat dipatahkan. Saya cuma belajar dari dunia—bahwa untuk bertahan, kadang kau harus jadi orang yang dibenci. Itu adalah biaya untuk tetap hidup.”
Rahmat menggeleng perlahan. Atmosfer ruangan itu sepenuhnya berubah dari interogasi menjadi sesi terapi yang gila. “Kalau semua orang berpikir seperti kamu, dunia akan hancur.”
Golden menatapnya dalam-dalam, lalu tersenyum lebar. Senyumnya kini mencapai matanya, namun tanpa kehangatan. “Mungkin dunia memang harus hancur dulu, Pak… dihancurkan oleh ketidaklogisan dan duka, supaya kita tahu apa artinya menjadi manusia. Karena kita ada untuk saling melengkapi, kan? Mereka menciptakan nilai, dan saya datang untuk menghancurkannya.”
Ia menegakkan punggungnya, lalu menatap dua polisi di hadapannya yang terdiam.
“Kalian pikir saya monster. Tapi mungkin, saya cuma produk dari dunia yang kalian sebut waras. Dunia yang menganggap kasih sayang adalah investasi, dan manusia adalah aset. Di dunia di mana semua orang yakin dirinya benar, siapa yang sebenarnya gila?”
Behind the story
Cerita ini dibuat berdasarkan kegelisahan aku dan kebingungan aku. Aku selalu mikir, kalau hidup itu takdir. Aku juga diajarin tentang konsep dosa dan berbuat baik, sebuah hal yang dogmatis.
Tapi, saat aku lihat lingkungan sekitar. Hidup itu terlalu kejam buat disebut takdir. Bayangkan, kalau kita ternyata gak lahir ditempat yang "baik", kita bakal tumbuh jadi jahat juga. Karena apa? Karena kita tumbuh dan berkembang sesuai lingkungan yang kita tinggali. Dan untuk kasus Golden, apakah masih pantas konsep dosa di kehidupannya? Kehidupan dia sejak lahir sudah terlalu gelap buat kena cahaya. Dan kalaupun cahaya nyorot hatinya, mungkin dia bakal langsung tutup cahaya itu karena terlalu asing.
Orang bilang, manusia lahir itu keadaannya sama dan punya pilihan masa depan yang sama. Tapi aku gak bisa lihat sisi itu.

0 Komentar