Aku bertanya-tanya, kenapa semua hal yang aku lakukan tak pernah sesuai. Semua hal yang aku lakukan selalu gagal. Kalaupun hampir sempurna, entah kenapa perasaanku hampa. Seperti ada yang salah, tapi aku tak tahu itu apa. Rasanya seperti kehilangan sesuatu, sesuatu yang penting. Sesuatu yang selama ini aku cari.

Tapi apa yang aku cari?

Aku mencoret gemas kertas yang tengah aku arsir hingga berlubang. Sialan. Lagi-lagi gambaranku tidak proporsional. Padahal aku sudah melakukan semua hal yang orang-orang katakan lewat video tutorialnya. Mulai dari menggambar garis, membayangkan perspektif, membentuk anatomi, hingga menentukan sisi gelap dan terang. Tapi kenapa gambaranku terus terlihat begitu menjijikkan?

Erangan kesal akhirnya keluar dari bibirku. Aku kesal. Dan berakhir hilangnya motivasi diriku dalam menggambar. Aku muak, benar-benar muak. Kenapa pula aku harus belajar menggambar? Kenapa pula aku repot-repot jungkir balik menentukan perspektif dan segala hal merepotkan itu jika menggambar tidak ada artinya untuk hidupku?

Tapi entah kenapa, setiap kali pikiran untuk berhenti menggambar terlintas, aku merasa itu salah. Padahal aku bukan seorang seniman, bukan seseorang yang sefanatik itu pada menggambar hingga menggantungkan hidupnya dengan kegiatan konyol ini. Tapi kenapa, kenapa setiap kali pikiran itu terlintas, keinginanku untuk menggambar semakin tinggi?

Tangan kananku terangkat, meraih gelas berisi air putih di meja. Tenggorokanku tercekat, membutuhkan sedikit kesegaran untuk meredakan gejolak emosi yang tiba-tiba meluap. Aku meneguknya rakus, berharap air ini bisa memadamkan api kekecewaan yang membakar dadaku.

Setelahnya, aku terdiam. Menatap nanar coretan-coretan tak berbentuk di atas kertas. Di tengah kekacauan garis dan arsir yang gagal, samar-samar terlintas sebuah pertanyaan di benakku. Apa yang sebenarnya aku cari dalam menggambar? Apa yang aku inginkan dalam menggambar? Sebuah kesempurnaan? Atau tempat pelarian? Atau adakah hal lain yang membuatku terikat dengan semua ini?

Pikiranku mulai mengawang, mengintip memori yang entah terjadi kapan. Aku ingat, dulu sekali, aku menggambar tanpa beban. Tanpa peduli perspektif, anatomi, atau teknik shading. Atau segala hal merepotkan lainnya. Aku menggambar apa pun yang terlintas di benakku. Monster-monster lucu, pemandangan khayal, atau potret teman-teman dengan gaya yang aneh. Dulu, menggambar adalah kebebasan. Sebuah cara untuk menuangkan imajinasi tanpa batas.

Tapi, kapan semua itu berubah? Kapan aku mulai terpaku pada kesempurnaan teknis dan melupakan esensi dari menggambar itu sendiri? Kapan aku mulai membandingkan diriku dengan orang lain dan merasa gagal karena tidak mampu mencapai standar yang mereka tetapkan?

Mungkin, inilah yang hilang. Kebebasan berekspresi. Kegembiraan dalam menciptakan. Kepolosan seorang anak kecil yang menggambar tanpa pretensi. Aku terlalu sibuk mengejar kesempurnaan hingga lupa menikmati prosesnya. Aku terlalu fokus pada hasil akhir hingga kehilangan makna dari setiap goresannya.

Perlahan, aku meraih kembali pensilku. Kali ini, tanpa target, tanpa paksaan, tanpa ambisi untuk menciptakan mahakarya. Aku hanya ingin menggambar. Menggambar apa pun yang ingin aku gambar. Menggambar dengan hatiku.

Aku mulai dengan garis-garis sederhana. Mengikuti alur pikiranku, membiarkan tanganku menari di atas kertas. Muncul sebuah wajah. Bukan wajah yang sempurna, bukan wajah yang proporsional. Tapi, wajah yang memiliki karakter. Wajah yang menyimpan cerita. 

Lalu, aku menambahkan detail. Mata yang sayu, bibir yang sedikit melengkung, rambut yang berantakan. Wajah itu mulai hidup. Wajah itu mulai berbicara. Wajah itu mulai bercerita.

Aku terus menggambar, tenggelam dalam dunia fantasiku sendiri. Melupakan kegagalan, melupakan kekecewaan, melupakan segala tuntutan kesempurnaan. Yang ada hanya aku dan pensilku, menciptakan sebuah dunia baru di atas selembar kertas.

Saat matahari mulai terbenam, aku menghentikan aktivitasku. Aku menatap gambaranku. Bukan gambar yang sempurna, tentu saja. Tapi, gambar yang jujur. Gambar yang merepresentasikan perasaanku. Gambar yang memiliki jiwa.

Dan kali ini, aku tidak merasa hampa. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Kepuasan. Kebahagiaan. Kedamaian. Mungkin, inilah yang selama ini aku cari. Bukan kesempurnaan, tapi ekspresi diri. Bukan pengakuan, tapi pembebasan. Bukan hasil akhir, tapi perjalanan.

Aku tersenyum. Mungkin, aku belum sepenuhnya menemukan apa yang hilang. Tapi, setidaknya aku tahu ke mana aku harus mencari. Aku harus kembali ke diriku yang dulu. Kembali ke kebebasan, kegembiraan, dan kepolosan seorang anak kecil yang menggambar tanpa batas. Karena, mungkin saja, di sanalah aku akan menemukan apa yang selama ini aku cari. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang bermakna. Sesuatu yang membuat hidupku lebih berwarna. Sesuatu yang membuatku

 tidak menyesal menjadi dewasa.