Hai guys, gimana kabarnya? 🌙
Beberapa hari ini aku lagi kepikiran satu hal setelah baca buku “Madilog” karya Tan Malaka. Awalnya aku cuma iseng, tapi ternyata isinya bikin aku mikir lama.
Tan Malaka ngomong soal “logika mistika” — dan katanya, logika itu sebaiknya dihapus. Pas aku baca bagian itu, aku sempat berhenti.
Dalam hati aku mikir, “Kalau logika mistika dihapus… apa berarti hubungan kita sama Tuhan juga ikut hilang?”
Aku tumbuh di lingkungan yang masih kuat sama tradisi dan mitos. Pamali, sesajen, doa sebelum keluar rumah, semua itu bagian dari hidup sehari-hari. Dan aku ngerasa, tanpa itu, hidup jadi terasa… kering.
Tapi di sisi lain, aku juga ngerti maksud Tan Malaka. Kadang kita terlalu pasrah, terlalu percaya sama “takdir”, sampai lupa buat berusaha.
Aku inget dulu sering ngomong, “Semoga Tuhan ngasih aku jalan.” Kedengarannya baik, tapi tanpa sadar, aku cuma nunggu. Nggak ngapa-ngapain. Nggak nyari jalan, cuma berharap ada cahaya datang sendiri.
Sampai akhirnya aku sadar. Tuhan nggak bakal ngubah nasib siapa pun kalau orang itu nggak berusaha dulu. Dan kalimat itu, walau sering banget aku dengar, baru benar-benar kena sekarang.
Jadi buat aku, logika mistika itu tetap penting. Dia bagian dari budaya dan identitas kita, tapi harus jalan beriringan sama logika rasional. Kita boleh percaya pada hal ghaib, tapi jangan sampai lupa buat bergerak, buat berjuang, buat mikir.
Tulisan ini mungkin masih berantakan, tapi aku cuma pengin jujur tentang apa yang aku rasain setelah baca Madilog. Kalau kamu punya pandangan lain, aku pengin denger juga. Biar aku nggak mikir sendirian.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya 🌿
—Bella

0 Komentar